Showing posts with label kepemimpinan. Show all posts
Showing posts with label kepemimpinan. Show all posts

Sunday, May 18, 2008

Figur seorang pemimpin

"Taatilah saya selama saya taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan bila saya mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, janganlah ikuti saya.”

Kurang lebih seperti itulah kalimat pertama yang di ucapkan abu bakar ketika memulai kepemimpinannya sebagai kholifah pertama. Tanpa ada program2 yang di janjikan, Kesetiaannya kepada Allah dan Rosul telah menjadikan kepercayaan tersendiri bagi umat pada masa itu.

Abu Bakar bernama lengkap Abdullah bin Abi Kuhafah At-Tamimi. Nama kecilnya adalah Abdul Ka’bah. Gelar Abu Bakar diberikan Rasulullah karena cepatnya dia masuk Islam (assaabiquunal awwaluun, yakni golongan pertama yang masuk Islam). Sedang Ash Shiddiq yang berarti ‘amat membenarkan’ adalah gelar yang diberikan kepadanya lantaran ia segera membenarkan Rasulullah SAW dalam berbagai peristiwa.

Kesetian beliau kepada Allah dan rosulnya dibuktikan beliau semenjak awal keislamannya. Seluruh harta kekayaannya sepenuhnya di gunakan untuk mendukung perjuangan rosul. Bukan cuma dengan harta bahkan beliau sendiri tidak pernah absen turut serta dalam peperangan yang di jalani rosul.

Dan sepeninggal rosul, Abu bakar meruskan perjuangan Rosul untuk menegedakan aturan Aturan Beliau senantiasa berpesan kepada pasukannya ketika akan berperang :
"Jangan berkhianat, jangan berlebih-lebihan, jangan menipu, jangan membunuh lawan dengan cara yang menyeksakan serta jangan membunuh anak, lelaki lanjut usia, dan wanita. Jangan menebang pohon kurma atau pohon yang sedang berbuah, jangan melakukan pembakaran serta jangan menyembelih kibas, lembu dan unta kecuali hanya untuk sekadar keperluan dimakan dagingnya. Nanti kalian akan berjumpa dengan orang yang bertapa dalam biara, biarkan mereka dan jangan mengusik mereka."

Menjelang ajalnya Abu Bakar berkata; "Allah membuka dunia bagi kamu sekelian, maka jangan mengambil darinya kecuali secukupmu. Dan ketahuilah bahawa siapa mengerjakan solat subuh, maka ia dalam jaminan Allah swt. Maka janganlah meremehkan Allah dengan jaminan-Nya sehingga menjerumuskanmu didalam neraka".

Abu Bakar, merupakan satu dari figur pemimpin Islam sepeninggalan rosul, yang tetap setia kepada Allah dan rosulnya, meskipun rosulnya sudah tidak ada bersamanya. Dan sekarang tiba masa kita di mana Rosul sudah tidak ada, Sahabat seperti Abu bakar, Umar, Utsman, Ali dan yang sahabat dekat rosul juga sudah tidak bersama kita, akankah kita tetap setia seperti mereka? Mulailah dari diri kita, karena pada dasarnya setiap diri adalah pemimpin, minimalnya menjadi pemimpim buat diri sendiri.

tulisan lain masalah kepemimpinan :
Laki-laki yang qowwam
tulisan lain tetang kisah sahabat :
Cinta Umar pada Rosul
Mungkinkah muncul Utsman di masa sekarang
Seteguh keislaman Bilal
READ MORE - Figur seorang pemimpin

Thursday, May 15, 2008

Laki-Laki yang qowwam

Ayat ini di ambil dari awal surat an an nisaa ayat 34 yang kalau di baca dalam terjemahannya : Laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan. Di sini saya akan gunakan bahasa aslinya dari Al quran untuk kata ar rijalu dan qowwam karena ada keterbahasan bahasa indonesia untuk mentranslate dari bahasa al qur'an dan dua kata itu yang akan saya tulis di sini sebagai pengingat buat saya sebagai laki-laki dan mudah-mudahan bermanfaat buat temen yang laki2 juga bisa menjadi seorang yang di katakan ar rijal. maaf ya.. buat temen2 para perempuan tulisan ini untuk laki-laki, tapi boleh baca juga koq.

Pertama, kenapa Allah di sini menggunakan kata 'ar rijal' untuk menunjuk hambanya yang laki-laki, tidak menggunakan kata mudzakar yang kalau di terjemahkan ke bahasa indonesia artinya juga laki-laki.

Ini sebuah penghargaan dari Allah untuk orang beriman dari golongan laki-laki, juga sekaligus ini sebagai pembelajaran tentunya. Karena seorang laki-laki beriman bukanlah semata2 manusia yang berjenis kelamin laki2 (mudzakar) tapi laki2 beriman adalah laki2 yang ia qowwam. Seorang yang tegak, seorang yang berilmu, seorang yang mampu untuk memimpin dirinya, seorang yang mampu memimpin keluarganya, mampu memimpin perempuan untuk bisa sama2 menyembah Allah, untuk taat kepada Allah.

Jelasnya untuk bisa di sebut seorang ar rijal, tidak cukup hanya karena kita ini seorang laki-laki saja, kita bisa saja mengaku bahwa kita ini arrijal bukan mudzakar, tapi buat apa kalau kemudian di mata Allah pengakuan itu tidak di pandang sama sekali. Untuk menjadi seorang ar rijal hal yang pertama di perlukan adalah ilmu, karena hanya dengan ilmu lah kita bisa qowwam, dan kalau bicara ilmu tentu yang di maksud di sini adalah Al quran. Sebelum kita qowwam atas perempuan atau orang lain tentunya kita harus qowwam dulu terhadap diri sendiri. Tidak mungkin kita bisa memimpin orang lain kalau kita tidak bisa memimpin diri sendiri. Bagaimana bisa kita bisa mengajak orang untuk taat kepada Allah kalau kita sendiri tidak taat. Bagaimana kita bisa mejaga keluarga kita dari api neraka kalau kita tidak bisa menjaga diri kita dari api neraka.
Ilmu Allah sangat luas, tentunya tidak mudah untuk dapat memahami siapa ar rijal itu hanya dengan kalimat yang hanya 3 paragraf, tapi ini mudah2 bisa mendorong semangat buat kita untuk mencari tahu lebih banyak bagaimana menjadi seorang ar rijal, menjadi seorang yang qowwam, bukan seorang laki-laki yang hanya mampu memimpin dengan mengandalkan fisik dan kekerasan.

kisah dan para sahabat :
Figur seorang pemimpin
Cinta Umar pada Rosul
Mungkinah muncul Utsman di masa sekarang
Seteguh keislaman Bilal

READ MORE - Laki-Laki yang qowwam