Showing posts with label Akhlaq. Show all posts
Showing posts with label Akhlaq. Show all posts

Wednesday, May 21, 2008

Sebuah pesan...

Pagi ini saya membuka Yahoo messenger dan muncul ada pesan offline dari temen saya yang isinya begini :

Please ... Request to All Muslim > > > > Don't say " Mosque " say " Masjid " ... coz Islam People has found that Mosque = Mosquitos > > > > Don't write " Mecca " write Corectly " Makkah " ... coz Mecca = House of wines > > > > Don't write " Mohd " write complitly as " Muhammad " ... coz Mohd = the dog with big mouth > > > > Don't write " 4JJI " write " Allah SWT " ... COZ " 4JJI " for judas Jesus Isa Al Masih > > > > And if you want to cut " Assalamu'alaikum " say " Asslm " not to say " Ass " ... coz Ass = donkey

Mudah-mudahan isi pesan ini juga bermanfaat buat yang lain jadi saya putuskan untuk memposting pesan itu...
READ MORE - Sebuah pesan...

Wednesday, May 7, 2008

Sebuah Obrolan Tentang Indonesia

ketika saya bertemu seorang teman dan juga sekaligus senior saya. Di bercerita tentang bagaimana Orang indonesia yang ramah tamah, bener gak sih orang indonesia itu ramah tamah? gk ada jawaban apakah iya atau tidak. Hanya sedikit perbandingan dengan kondisi diluar sana yang ceritakan. perbandingan ini di ceritakan beliau dengan contoh kasus.

Pertama, kita coba menyebrang jalan (yang tidak ada jembatan penyebrang jalannya) rasanya sulit untuk menemui pengguna kendaraan yang mau ngasih kita nyebrang, yang ada malah sopirnya teriak2 'weiii jangan nyebrang sembarangan!!!" katanya beliau di luar sana kalau pengemudi liat orang berdiri saja dipinggir jalan keliatan mau nyebrang, maka sopir itu akan mempersilahkannya nyebrang.

Kedua, Kalau di sini kita pergi ketempat belanja (supermarket) kemudian kita milih2 barang sampe barang yang ditaruh di tempat tinggi2 minta diturunkan, tapi kemudian kita gak jadi beli karena gk ada yang cocok. Maka di pelayanan akan memperlihatkan wajah yg tidak bersahabat, karena dah capek2 ngeluarin barang dan berantakan lagi, eh gk jadi beli. minimalnya dengan menunjukan raut wajah yang kurang seneng. Katanya lagi kalau disana walaupun begitu kita masih akan dilayani dan diberi ucapan terima kasih karena sudah mau mampir ke tokonya.

Beliau masih meneruskan contoh2 lainnya. mudah2an kasus2 itu hanya kebetulan saja beliau alami dan dilapangannya tidak seperti itu atau setidaknya tidak semua seperti itu. Cuma akan bijaksana juga kalau kiranya kita jadikan sedikit kasus itu untuk kita renungkan, mengingat gejala sosial di kita sekarang rasanya terlalu muda orang terbakar emosinya, terlalu mudah orang merasa tersinggung, terlalu mudah orang untk menghabisi nyawa yang lainnya, terlalu mudah untuk mengambil hak orang lain. Betulkan bangsa ini bangsa yang bebudi luhur, ramah tamah?

Ini hanya sebuah bahan perenungan, mudah-mudahan kedepannya bangsa ini bisa lebih baik lagi, lebih mulia lagi akhlaknya. amien.

tulisan berhubungan :
Potret bangsa di hari Kebangkitan Nasional
READ MORE - Sebuah Obrolan Tentang Indonesia

Sifat Malu dan Pengaruhnya

Dari Imran Bin Hushain dia Berkata : "Nabi telah bekata : Sifat malu selalu mendatangkan kebaikan" (Hr Bukhari, Muslim dan Ahmad

Malu di sini adalah Malu kepada Allah akan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan kehendaknya, malu untuk melakukan hal-hal yang tidak disukai Allah.

Apabila sifat malu seperti ini tetap terpeliharan dalam diri kita maka jelas ini akan mandatangkan kebaikan kepada kita, karena sifat malu seperti ini akan menjadi rem ketika apa yang kita kerjakan mulai keluar dari jalan yang Allah ridhai. Sehingga pada akhirnya diri kita akan selalu terpeliharan untuk selalu berbuat kebaikan dan terhindah dari hal-hal yang dibenci Allah, menjadikan qulub tetap bersih, dan Kalau qulub bersih maka seluruh anggota tubuh yang lainpun amalannya akan ikut bersih.

Di jaman seperti sekarang ini, rasanya perlu kita selalu instropeksi kembali kedalam diri kita, Adakah rasa malu dalam diri kita kepada Allah ketika kita dengan cerianya membicarakan keburukan orang lain, Apakah ada rasa malu ketika kita sedang menikmati hidup sementara yang lainnya sedang menderita. Apakah malu ketika sedang asik dengan pekerjaan kita semntara Allah memanggil2 kita untuk shalat misalnya.

Setelah menulis ini ternyata masih banyak yang masih harus saya perbaiki. mudahan2 tulisan ini mengingatkan saya untuk selalu menjadi malu di hadapan Allah. Malu untuk menomorduakannya, malu untuk menyepelekannya, malu untuk tidak bersegera dengan perintahnya, malu karena kurang bersyukur kepadanya, malu karena seringkali bersikap atau berbuat yang berlebihan. dan malu2 yang lainnya.
READ MORE - Sifat Malu dan Pengaruhnya

Saturday, April 26, 2008

Menahan Nafsu

"Dari Abi Hurairah r.a ia berkata, Rasulullah saw bersabda : Orang yang kuat bukanlah orang yang kuat gulatnya, tetapi orang yang kuat itu, ialah orang yang dapat menguasai nafsunya di kala dalam keadaan marah (H>R. Bukhari dan Muslim)

Jelaslah dengan adanya hadist ini, bahwa sesungguhnya orang dikatakan kuat bukanlah semata ketika orang itu memiliki badan yang kekar yang siap mengalahkan siapa saja. Tapi seseorang dikatakan kuat yaitu ketika orang itu mampu mengalahkan hawa nafsunya ketika rasa marah bergejolak. Sehinggal ia tidak sampai lupa daratan mencanci maki, melontarkan sumpah serapah untuk melepaskan amarahnya.

Emosi atau amarah tentu tidak akan pernah lepas dari setiap diri manusia karena memang sifat itu telah menempel semenjak manusia lahir kemuka bumi. Dan tentunya ketika rasa marah tersebut muncul dengan sendirinya rasa itu akan membawa suatu reaksi dimana kita akan sanggup untuk melakukan kekerasan sekalipun. Bahkan sesorang yang sudah dikuasi dengan amarah akan sangat mudah terdorong untuk memiliki perasaan dendam yang sangat merusak dan merugikan dirinya. Dendam kepada orang yang telah dianggap menindas atau merugikannya. Bahkan bisa juga dendam kepada lingkungan yang dianggap tidak bersahabat dengan dirinya.

Disitulah ujiannya Buat kita semua, sanggupkan kita menundukan rasa amarah dalam diri kita? tentunya kesabaran, penyerahan diri dengan ikhlas pada ketetapan Allah akan sangat dibutuhkan oleh kita semua untuk menundukan amarah itu.

Bukan berarti kita tidak boleh marah, tentu kita akan marah ketika aturan Allah diinjak-injak, ketika Aturan Allah di hinakan. Tapi itu bukan berarti kita jadi bisa melepaskan amarah kita semau-maunya. Tentunya kita harus banyak belajar dari Rosul dan para sahabat.
READ MORE - Menahan Nafsu